Archive for the ‘Renungan’ Category

ANDAIPUN di seluruh Indonesia tak ada lagi koruptor di segala level dan lini, tak ada kejahatan, keserakahan, maksiat atau segala macam nilai kacau lainnya, tidak serta-merta bangsa kita akan menjadi selamat atau apalagi pasti mengalami kemajuan.

Baik buruk, jahat tak jahat, bukan satu-satunya faktor penentu nasib manusia. Dimensi dasar nilai hidup manusia adalah baik dan buruk, benar dan salah, indah dan tidak indah, sebenarnya belum cukup. Masih ada dimensi mendasar lainnya, belum lagi variabel-variabel dan detailnya. Ada ratusan terminologi.
Baca Selengkapnya >>

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil maka yang harus disalahkan Ustadz, sebab jika tidak maka itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

Kalau Khadafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Baghdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.
Baca Selengkapnya >>

oleh Muhammad Awaludin Ismail pada 08 Juli 2009 jam 21:20

Kepemimpinan sesungguhnya adalah amanah yang setiap saat harus dipertanggungjawabkan dan sewaktu-waktu bisa diambil oleh yang memberi amanah. sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang dipimpinnya”. Bila kepemimpinan dimaknai sebagai kekuasaan, maka Allah SWT telah mengingatkan bahwa hakikat kekuasaan itu adalah milik Allah SWT seperti yg tertuang dalam surat Ali Imran ayat 26, “Allah memberi kekuasaan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, dan Allah pula yang mencabut kekuasaan dari siapapun yang dikehendaki-Nya.”
Baca Selengkapnya >>

oleh Muhammad Awaludin Ismail pada 29 Juli 2009 jam 12:39

Ada sebuah alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib.
Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.
Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapa pun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan bisa berhenti apabila si petani mengucapkan kata “cukup”.

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.
Kucuran uang itu terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani
itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.
Baca Selengkapnya >>

oleh Muhammad Awaludin Ismail pada 22 Desember 2009 jam 21:25


Berbahagialah wahai para muslimah. Janganlah risau dan gundah hanya karena apresiasi absurd dan semu di dunia yang fana ini.


“Kaum feminis bilang susah dan gak enak loh jadi wanita”,

Lihat saja peraturan dibawah ini:

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki (krn lebih banyak). Dan harus di-hijab (baca: ditutupi) sesuai ketentuan syara’.

2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak berlaku sebaliknya. Sehingga, wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat kepada isterinya.

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.

4. Wanita selalu menghadapi kesusahan beratnya mengandung dan sakitnya melahirkan, sedangkan lelaki tidak.

5. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri, dan wanita kekuatan saksinya kurang (apabila menjadi saksi) dibanding lelaki.

6. Wanita kurang dalam beribadah karena adanya halangan haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.
Baca Selengkapnya >>