Archive for the ‘Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)’ Category

ANDAIPUN di seluruh Indonesia tak ada lagi koruptor di segala level dan lini, tak ada kejahatan, keserakahan, maksiat atau segala macam nilai kacau lainnya, tidak serta-merta bangsa kita akan menjadi selamat atau apalagi pasti mengalami kemajuan.

Baik buruk, jahat tak jahat, bukan satu-satunya faktor penentu nasib manusia. Dimensi dasar nilai hidup manusia adalah baik dan buruk, benar dan salah, indah dan tidak indah, sebenarnya belum cukup. Masih ada dimensi mendasar lainnya, belum lagi variabel-variabel dan detailnya. Ada ratusan terminologi.
Baca Selengkapnya >>

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil maka yang harus disalahkan Ustadz, sebab jika tidak maka itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

Kalau Khadafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Baghdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.
Baca Selengkapnya >>

Emha Ainun Nadjib adalah sebuah fenomena. Pemikirannya sangat fleksibel, bisa masuk ke berbagai ranah kehidupan: sosial, budaya, politik, keagamaan, bahkan dunia selebritas. Namun, Cak Nun–demikian sapaan akrabnya–tetap giat dalam berbagai acara rutin yang diasuhnya, yaitu Padang Mbulan (Jombang), Mocopat Syafaat (Yogyakarta), Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat (Semarang), dan Obor Ilahi (Malang).
Baca Selengkapnya >>

Renungan Ramadhan
Emha Ainun Nadjib

PUASA itu melatih “tidak” karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan “ya”. Sekurang-kurangnya mengendalikan “ya”. Mental manusia lebih berpihak pada “melampiaskan” dibanding “mengendalikan”. Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan,tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada pengendalian daripada pelampiasan. Bahkan idiom “kemerdekaan” kita selama ini sedemikian tidak terkontrol sehingga identik dengan “pelampiasan”.
Baca Selengkapnya >>

Monjali (26/3/2009)


Do’a Pernikahan
Emha Ainun Nadjib

Ya Allah wahai Maha Pengasuh ummat manusia
Sesungguhnya nikah adalah gagasan-Mu,
Sesungguhnya nikah adalah karya-Mu,
Sesungguhnya nikah adalah perintah-Mu

Maka Engkau pulalah yang sesungguhnya menyiapkan singgasana pelaminan
bagi siapapun hamba-hamba Mu yang melakukannya
Engkau pulalah yang melimpahkan rizqi, baik rizqi yang berada di dalam perhitungan mereka,
maupun rizqi yang tak bisa mereka duga
Engkaulah yang menyediakan rumah, membangun mahligai persemayaman
melalui ketekunan kerja dan kreativitas akal fikiran mereka
Serta Engkaulah yang mempekerjakan para Malaikat-Mu
untuk turut membantu memelihara kemesraan mereka
mempertahankan kenikmatan mereka
untuk senantiasa saling setia di antara mereka berdua
Baca Selengkapnya >>

Ia adalah sosok multikreatif. Kreativitasnya telah mengantarkan langkah kakinya ke berbagai dimensi kehidupan: santri, gelandangan, dan seniman sastra.

Tanggal 17 malam, di Dusun Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

Halaman pesantren yatim piatu itu sudah nyaris penuh oleh jemaah. Nuansa putih mewarnai ribuan orang yang duduk di atas puluhan tikar yang terhampar, sampai ke luar kompleks Pesantren Zaituna. Pukul sembilan tepat, acara pun dibuka dengan pembacaan surah Al-Fatihah oleh seorang pria gagah yang juga mengenakan baju dan kopiah putih.
Acara demi acara pun kemudian mengalir dengan lancar. Selawat pembuka, yang diambil dari beberapa syair Maulid Simthud Durar, mengawali prosesi spiritual malam itu. Lantunan syair selawat itu semakin indah saat diiringi irama rancak yang berasal dari perpaduan berbagai alat musik modern dan tradisional. Jemaah, yang sebagian besar pemuda dan mahasiswa, pun segera larut dalam kesyahduan.
Baca Selengkapnya >>