Argumentasi Ad Hominem

Posted: 07/04/2012 in Komunikasi Sosial

Apa Sih Yang Dimaksud dengan Argumentum Ad Hominem?

Well, kali ini saya akan membahas satu istilah yang mungkin ada yang ga tau apa sih arti atau maksud kata dari istilah “Argumentum Ad Hominem”. Argumentum Ad Hominem berasal dari bahasa latin. Argumentum Ad Hominem, ada yang menafsirkan jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris adalah “argument to the man” atau ”argument against the man” yang berarti “pendapat yang menyerang/ tertuju pada pribadi/ karakter seseorang”.

Argumentum Ad Hominem memiliki dua tipe diantaranya:

1. Argumentum ad Hominem Tipe I (abusif)
Argumentum ad Hominem Tipe I adalah argumen diarahkan untuk menyerang manusianya secara langsung. Penerapan argumen ini dapat menggambarkan tindak pelecehan terhadap pribadi individu yang menyatakan sebuah argumen.
Hal ini keliru karena ukuran logika dihubungkan dengan kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya.
Argumen ini juga dapat menggambarkan aspek penilaian psikologis terhadap pribadi seseorang. Hal ini dapat terjadi karena adanya perbedaan pandangan.
Ukuran logika (pembenaran) pada kesesatan berpikir “argumentum ad hominem” jenis ini adalah kondisi pribadi dan karakteristik personal yang melibatkan: gender, fisik, sifat, dan psikologi.

Contoh 1:
Tidak diminta mengganti bohlam (bola lampu) karena seseorang itu pendek.
Kesesatan: tingkat keberhasilan pergantian sebuah bola lampu dengan menggunakan alat bantu tangga tidak tergantung dari tinggi/ pendeknya seseorang.

Contoh 2:
Seorang juri lomba menyanyi memilih kandidat yang cantik sebagai pemenang, bukan karena suaranya yang bagus tapi karena parasnya yang lebih cantik dibandingkan dengan kandidat lainnya, walaupun suara kandidat lain ada yang lebih bagus.

2. Argumentum ad Hominem Tipe II (sirkumstansial)
Berbeda dari argumentum ad hominem Tipe I, ad hominem Tipe II menitikberatkan pada hubungan antara keyakinan seseorang dan lingkungan hidupnya. Pada umumnya ad hominem Tipe II menunjukkan pola pikir yang diarahkan pada pengutamaan kepentingan pribadi, sebagai contoh: suka-tidak suka, kepentingan kelompok-bukan kelompok, dan hal-hal yang berkaitan dengan SARA.

Contoh 1:
Pembicara G: Saya tidak setuju dengan apa yang Pembicara S katakan karena ia bukan orang Islam
Kesesatan: ketidak setujuan bukan karena hasil penalaran dari argumentasi, tetapi karena lawan bicara berbeda agama.
Bila ada dua orang yang terlibat dalam sebuah konflik atau perdebatan, ada kemungkinan masing-masing pihak tidak dapat menemukan titik temu dikarenakan mereka tidak mengetahui apakah argumen masing-masing itu benar atau keliru. Hal ini terjadi ketika masing-masing pihak beragumen atas dasar titik tolak dari ruang lingkup yang berbeda satu sama lain.

Contoh 2 :
Argumentasi apakah Isa adalah Tuhan Yesus (Kristen) ataukah seorang nabi (Islam).
Ini adalah sebuah contoh argumentasi yang tidak akan menemukan titik temu karena berangkat dari keyakinan dan ilmu agama yang berbeda

Contoh 3:
Dosen yang tidak meluluskan mahasiswanya karena mahasiswanya berasal dari suku yang ia tidak suka dan sering protes di kelas, bukan karena prestasi akademiknya yang buruk.

Argumentum ad hominem Tipe I dan II adalah argumentasi-argumentasi yang cenderung mengarah kepada hal-hal yang negatif dan biasanya melibatkan emosi.

———————————————————————————————————————————–
Berikut adalah contoh permasalahan yang berkaitan dengan Argumentum Ad Hominem:

Seorang anak balita berlari-lari mengejar bola yang terus menggelinding di sebuah taman. Tiba-tiba ia terjatuh. Sang ibu yang melihat kejadian itu sontak langsung mendekati buah hatinya.

“Jatuh ya, Nak? Siapa yang nakal? Kodoknya yang nakal ya? Ugh! Kodoknya memang nakal! Ibu pukul ya kodoknya? Cup..cup.. Jangan nangis lagi ya, tuh kodoknya udah pergi. Kodoknya memang nakal.” kata sang Ibu sembari berpura-pura memukul kodok untuk menghentikan tangis anaknya.

Jurus “menyalahkan kodok” seperti ini terkadang memang ampuh untuk menghentikan tangis seorang anak kecil yang terjatuh. Menghadirkan sebuah kodok fiktif untuk dipersalahkan karena sebetulnya tidak ada kodok di taman itu. Lebih tepatnya, sebetulnya bukan kodok yang menyebabkan anak itu terjatuh. Tentunya seorang anak kecil bisa terjatuh karena banyak hal, karena perilaku anak itu sendiri yang berlari-lari kesana kemari, tersandung batu, atau apa pun juga. Yang jelas, jarang sekali anak kecil terjatuh karena seekor kodok yang nakal. Lalu kenapa kodok yang disalahkan? Apa salah kodok?

Ketika kita menimpakan kesalahan kepada orang lain atau benda, maka baru saja kita melakukan argumentum ad hominem. Sebuah perilaku yang menunjukkan kesalahan logika (logical fallacy) dimana kita menyerang pribadi seseorang atau sesuatu yang tidak ada hubungannya ketika kita menghadapi masalah. Misalnya, kita datang terlambat ke kantor kemudian kita menyalahkan traffic light yang berwarna merah sehingga menghalangi kita sampai di kantor tepat waktu. Atau ketika kita gagal ujian, kita salahkan hujan yang datang terus menerus.

Gejala argumentum ad hominem seperti ini menghalangi kita untuk belajar jujur mencari sebab suatu masalah.

Jeda traffic light saat berubah dari warna merah menjadi warna hijau tentu saja tidak berubah setiap harinya. Lalu mengapa di lain hari kita bisa datang tepat waktu, namun di waktu yang lain kita datang terlambat? Apa benar traffic light yang menjadikan kita terlambat? Atau memang karena kita yang terlambat bangun pagi? Lalu, apa salah hujan ketika kita tidak bisa mengerjakan soal ujian? Badai kah? Tentu saja kejujuran dari masing-masing diri kita yang mampu menjawabnya.

Gejala argumentum ad hominem kerap pula kita temui saat berdebat. Baik perdebatan yang terjadi dalam percakapan sehari-hari maupun dalam sebuah forum diskusi. “Shoot the messenger, not the message.” Argumentum ad hominem adalah cara berdebat yang menyerang pribadi lawan debat secara langsung, bukan argumennya. Dalam lomba debat sendiri, peserta yang melontarkan argumen menyerang pribadi lawannya akan mendapat “kartu merah” sehingga untuk selanjutnya dia tidak diperkenankan meneruskan debat dan dinyatakan kalah. Kenapa begitu? Sebab, ad hominem adalah salah satu bentuk logical fallacy.

Logical fallacy merupakan sebuah kesalahan yang besar, karena bisa menjebak perdebatan konstruktif menjadi debat kusir penuh retorika. Beberapa jenis kesesatan penalaran dipelajari sebagai lawan dari argumentasi logis. Teknik berargumen jenis ini bisa dilontarkan tampak sangat frontal ataupun disampaikan dengan bahasa yang sangat halus hingga tidak ada orang yang menyadarinya. Namun yang paling penting, logical fallacy menghasilkan sebuah kesimpulan yang sesat karena tidak disusun dengan logika yang benar.

Kesalahan relevansi. Benar tidaknya suatu konklusi tidak didasarkan pada kaidah-kaidah logika, tapi pada ukuran-ukuran lain yang tidak relevan dengan logika. Sebuah kesalahan logika karena pemilihan premis yang tidak tepat, yaitu membuat premis dari proposisi yang salah dan proses kesimpulan premis yang caranya tidak tepat. Sehingga premisnya tidak berhubungan dengan kesimpulan yang akan dicari. Secara psikologis, premis tersebut nampak saling berhubungan. Namun kesan akan adanya hubungan psikologis ini sering kali membuat orang terkecoh.

Dalam argumentum ad hominem, ukuran kebenaran yang digunakan adalah penilaian terhadap orang yang menyampaikan pernyataan atau argumentasi. Sebuah hal yang keliru ketika ukuran logika yang ada dihubungkan dengan kondisi pribadi personal seseorang yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya.

Secara sederhana, argumentum ad hominem muncul saat ada keinginan untuk menang. Saat dimana seseorang tidak bisa menerima kenyataan sehingga akhirnya mencari-cari subjek lain untuk dipersalahkan. Sebuah hal yang wajar ketika semua orang ingin diterima oleh orang lain. Baik diterima keberadaanya maupun cara berpikirnya. Yang menjadi masalah adalah ketika mengusahakan penerimaan itu kita menghalalkan berbagai cara, termasuk dengan merendahkan pribadi orang lain di sekeliling kita.

Sahabat Ali ra pernah mengatakan bahwa “Seorang muslim yang baik adalah ketika ia melihat dan merasa bahwa muslim yang lain itu lebih baik dari dirinya.” Karena Sifat merendahkan orang lain sebetulnya adalah sebuah sikap yang mencerminkan kecacatan pribadi. Saat kecacatan pribadi seseorang terlihat oleh orang lain maka ia akan sibuk mencari kecacatan yang ada pada diri orang lain. Sungguh benar kata sebuah peribahasa yang kita kenal saat duduk di bangku sekolah, “Kuman di seberang lautan tampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tak tampak.”

Sayangnya, menghindari kesalahan logika seperti ini dalam kehidupan sehari-hari sangatlah susah, bahkan untuk mendeteksinya saja sungguh perlu kecermatan setiap detil kata/ kalimat yang diungkapkan. Kesesatan logika yang kita temui setiap harinya pun sebenarnya sangat efektif digunakan untuk provokasi, menggiring opini publik, pembentukan sebuah regulasi, pembunuhan karakter, atau penghindaran jerat hukum, bahkan hingga taraf penyesatan akidah. Padahal jika ingin menemukan sebuah solusi kebenaran maka akan terasa lebih bijak jika kita bersama-sama membahas substansi masalah yang ada dan bukan sekedar menginginkan pendapatnya diterima oleh orang lain. Memang, dengan memanfaatkan kesalahan logika dalam sebuah silat lidah kita dapat memenangkan suatu diskusi, namun itu menjauhkan kita dari esensi penyelesaian permasalahan. Suatu bangsa akan maju ketika masyarakatnya sudah terbiasa berdiskusi secara konstruktif, termasuk pula bebas dari kesalahan-kesalahan logika saat berargumentasi.

Semoga Bermanfaat.

Source: Wikipedia, Blogger

Advertisements
Comments
  1. Adul says:

    Apa bedanya ama homonim?? hehe.. pas mangstabb lah broo..

  2. work it n like it says:

    nice inpo gan.. bisa buat referensi TA psikologi ane nih..

  3. Evan says:

    thank you so much 🙂
    ngebantu banget buat bahan presentasi saya
    what a great post, keep posting :))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s